Z not always be the last

Sehari di ( Kawasan ) Monas

Monas, serasa anak-anak kalau jalan-jalan ke ikon Jakarta ini. Tapi banyak orang yang lupa atau bahkan tidak menyadari ataupun emoh untuk tahu jika di kawasan tersebut tidak hanya ada Monumen Nasional, gedung tinggi berpuncak emas kebanggan warga Jakarta. Di sekeliling Monas terdapat berbagai macam objek wisata seperti Museum Gajah ( Museum Nasional), Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, Stasiun Gambir dll. Liburan akhir tahun kemarin tanggal 30 Desember 2012 akhirnya kami sempat jalan-jalan mengelilingi kawasan Monas.

Museum Nasional

Museum Nasional

Start di Museum Nasional atau Museum Gajah, dinamakan gajah karena ada patung gajah di depan bangunan, tapi saya tidak tahu apa makna gajah tersebut. Bagi yang mau naik kendaraan umum akan lebih enak naik Transjakarta turun di halte Monas, Museum tepat diseberangnya. Ketika kami kunjungi gedung sedang dipugar di bagian depan, halaman tertutup dan banyak tukang sedang bekerja, tapi bukan berarti Museum tutup, kita masih bisa masuk melewati jalan-jalan yang  memang sudah disiapkan disela-sela pengerjaan. Tiket Rp 5.000,- untuk dewasa dan Rp 3.000,- untuk anak-anak, harga yang cukup standard untuk Museum-Museum di Jakarta. Bagian yang pertama kami kunjungi di lantai 1 adalah jaman prasejarah, disana dipajang macam-macam fosil yang pernah ditemukan di Indonesia, mulai dari batu-batu sebagai alat bantu, kerangka manusia dan segala penjelasannya. Seperti kembali ke masa sekolah dulu, membaca nama-nama latin untuk fosil-fosil purba yang sangat berbau daerah-saerah Indonesia. Dengan banyaknya fosil-fosil asli Indonesia jadi terpikir mungkin benar ada yang bilang jika Indonesia pernah menjadi pusat peradaban dunia, Wallahu’alam.

Replika Manusia Purba

Replika Manusia Purba

Naik ke lantai 2 adalah jaman sejarah, situs-situs jaman kerajaan banyak dipajang disini. Tulisan sanksekerta, arab, jawa kuno. Hebat orang kita dulu sudah bisa buat tulisan dan monumen sekeren itu jaman dulu.

Prasasti

Prasasti

Sayang lantai 3 sedang ada perbaikan jadi tidak diperbolehkan untuk masuk, seharusnya disana adalah tempat koleksi keramik dsb. Kami langsung ke lantai 4, di pintu ada tulisan Dilarang Memotret, entah apa tujuannya tapi mungkin karena di lantai ini adalah koleksi emas dan perhiasan jaman dulu. Dan memang semua koleksi tidak ada yang bisa disentuh serta disudut kaca terdapat sensor. Berkilau sekali memang koleksi yang terdiri dari kalung, gelas, cincin, mahkota bahkan pedang emas bertahtakan berlian. Baru kali ini saya melihat mengapa jaman dulu pedang sering jadi rebutan, terbuat dari emas dengan berlian yang berkilauan, panteeeesssss mahaal cyiiin :p

Selesai dari lantai 4 kami turun dan ke sayap kiri gedung yang bercerita tentang kebudayaan di Indonesia dipisahkan berdasar provinsi dimulai dari bagian Barat berakhir di Papua.

Ada bagian luar (masih dalam gedung) disana ditampilkan koleksi-koleksi patung-patung jaman kerajaan. Ada yang mini terbuat dari tembaga sampai raksasa dari batu.

Sayang beberapa situs sudah banyak terdapat congkelan ataupun mengikis, gambar dan tulisan sudah tidak terbentuk lagi. Bahkan cenderung dijejerkan begitu saja tanpa nama dan penjelasan dari mana dan sejarahnya, hanya seperti batu-batu hiasan tanpa sejarah :(

Inside Istiqlal

Usai zuhur dan makan kami lanjut ke Monas, teriknya mentari memang jadi gangguan terindah. Niat kami untuk menaiki puncak monas untuk melihat Jakarta dari ketinggian urung, antrian masuk sudah mengular teramat panjang jadinya hanya foto-foto dan duduk. Langkah kami lanjutkan ke Masjid Istiqlal, melewati es krim Ragusa membuat tergoda apadaya ngantri, kami memilih jalan terus. Masjid masih sepi karena belum masuk Ashar. Dari Istiqlal kami melihat bangunan Gereja Katedral yang klasik, sungguh harmoninya tampak. Masjid dan gereja berdampingan <3 Ini adalah pengalaman pertama kami memasuki Istiqlal dan sholat berjama’ah di dalamnya. Di sana tidak ada mukena namun ada beberapa ibu-ibu yang menyewakannya dengan imbalan seikhlasnya. Saya sedikit bingung dengan besarnya Masjid (baca : norak), apakah benar masjid sebesar itu jama’ahnya masih mluber? Subhanallah.

Istiqlal

Teriknya siang disejukkan dengan gerimis, tujuan selanjutnya adalah bangunan di seberang, Gereja Katedral. Sempat ragu untuk masuk pagar gereja, takut tidak diperbolehkan karena hijab yang saya pakai tapi Alhamdulillah tidak terjadi. Dengan kikuk saya masuk dan mencoba tersenyum ke security gereja. Aristeknya klasik dan mecoba meniru gaya Eropa (entah apa namanya, ga ngerti gaya-gaya arsitek), tinggi menjulang dengan puncak salib dan di atas pintu masuk terdapat patung Bunda Maria.

Kanan : Monas ; kiri : Katedral

Kanan : Monas ; kiri : Katedral

Usailah perjalanan kami di halte Juanda. Sehari wisata pusat Jakarta, bisa belajar, beribadah dan olahraga. Bagi yang tak suka berkeringat dan jalan jauh memang bukan rekomendasi tapi yang tidak masalah dengan semua itu pasti akan sangat menyenangkan meski pulang kulit sedikit belang (curhat).

Selamat jalan-jalan

-Z-

PS : picture taken by @mahendraft

2 responses

  1. Ah, suka dengan kalimat terakhirnya. I think I know it…;)
    Bangunan Katedral bergaya Gotik. Dulu saat masih jadi ajudannya Aa’ Gym (yang bertugas menemani di ruang VIP) saat kajian bulanan, saya sempat melihat jamaah luber, meskipun lantai atas tak semuanya penuh.

    January 16, 2013 at 10:22 pm

  2. Hello Zuharin, Mohon izin untuk meng-copy Foto-fotonya,ya.. Thank You..
    Regards,
    Daud Firman

    September 22, 2013 at 4:49 pm

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.